Classy Pedia: jurnalistik
News Update
Loading...
Showing posts with label jurnalistik. Show all posts
Showing posts with label jurnalistik. Show all posts

Wednesday, August 7, 2019

Pengertian bahasa jurnalistik

Pengertian bahasa jurnalistik

Arti dan definisi bahasa jurnalistik

Apa itu jurnalistik tentunya kita sering menonton tayangan televisi ataupun radio dan kita disuguhi berbagai informasi dengan bahasa yang membuat kita kadang ikut terhanyut seperti mengalami sendiri peristiwa secara langsung yang diampaikan oleh pembawa berita nya. Bahasa jurnalistik sendiri mempunyai aturan atau kaidah dalam penggunaanya itulah mengapa kita sering ikut bisa menggambarkan peristiwa yang disampaikan sang jurnalist. oke berikut pembahasan tentang:

Pengertian Bahasa Jurnalistik

Secara etimologi, jurnalistik berasal dari kata journ dalam bahasa prancis, Journ sendiri memiliki arti catatan atau laporan harian. Jadi secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah atau media massa lainnya.

Definisi Bahasa Juralistik

Dalam Leksikon Komunikasi dirumuskan, jurnalistik adalah pekerjaan mengumpulkan, menulis, menyunting, dan menyebarkan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio dan televisi (Kridalaksana, 1977:44).
 F.Fraser Bond dalam An Introduction to Journalism (1961:1)  menulis: jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai pada kelompok pemerhati.
Roland E. Wolseley dalam Understanding Magazines (1969:3) menyebutkan, jurnalistik adalah pengumpulan, penulisan, penafsiran, pemrosesan, dan penyebaran informasi umuum, pendapat pemerhati, hiburan umum secara sistematik dan dapat dipercaya untuk diterbitkan pada surat kabar, majalah, dan disiarkan di stasiun siaran (Mappatoto, 1993:69-70).
Adinegoro menegaskan, jurnalistik adalah semacam kepandaian mengarang yang pokoknya memberi pekabaran pada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya (Amar, 1984:30).
Astrid S. Susanto menyebutkan, jurnalistik adalah kegiatan pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari (Susanto, 1986:73). 
Onong Uchjana Efendy, mengemukakan, secara sederhana junalistik dapat didefisinikan sebagai teknik mengelola berita mulai dari mendapatkan bahan sampai kepada menyebarluaskannya kepada masyarakat (Effendy, 2003:95). 
Djen Amar menekankan, jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berita kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat-cepatnya (Amar, 1984:30). 
Erik Hodgins, redaktur majalah Time, menyatakan, jurnalistik adalah pengiriman informasi dari sini ke sana dengan benar, saksama, dan cepat, dalam rangka membela kebenaran dan keadilan berpikir yang selalu dapat dibuktikan (Suhandang, 2004:23), Curtis D. Mac Dougall dalam Interpretative Report-ing menyebutkan, jurnalistik adalah kegiatan mencari fakta, menghimpun berita, dan melaporkan peristiwa (Kusumaningrat, 2005:15). Jadi berdasarkan definisi para ahli diatas dapat disimpulkan definisi jurnalistik sebagai berikut: secara teknis jurnalistik adalah kegiatan menyiapkan, mencari, mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan menyebarkan berita melalui media berkala kepada khalayak seluas-luasnya dengan secepat cepatnya.

Oke demikianlah penjelasan singkat tentang Pengertian bahasa jurnalistik dikutip dari berbagai sumber buku. semoga bermanfaat.

Tuesday, August 6, 2019

Jenis-jenis paragraf jurnalistik

Jenis-jenis paragraf jurnalistik

Jenis-jenis paragraf jurnalistik

Paragraf menurut jenisnya, dikelompokkan kedalam: (1) paragraf deduktif, (2) paragraf induktif, (3) paragraf campuran, (4) paragraf perbandingan, (5) paragraf pertanyaan, (6) paragraf sebab-akibat, (7) paragraf contoh, (8) paragraf perulangan, dan (9) paragraf pengertian (tarigan, 1981:30-34).
1. Paragraf deduktif
Paragraf yang dibuka dengan kalimat utama disusul dengan penjeleasan atau uraian secara lebih perinci dengan mengekor pola urutan pesan dari umum ke khusus, dinamakan paragraf deduktif.
2. Paragraf induktif
Paragraf yang dibuka dengan kalimat penjelas yang menekankan bagian-bagian atau unsur-unsur terkecil disusul dengan keterangan bagian-bagian yang lebih banyak kemudian diselesaikan dengan benang merah atau kalimat penegas, dinamakan paragraf induktif. Dalam paragraf induktif urutan pesan dibuka dari eksklusif ke umum.
3. Paragraf campuran
Paragraf gabungan sesungguhnya adalahgabungan sejumlah unsur paragraf deduktif dan paragraf induktif. Bahasa jurnalistik, tidak cukup menyukai paragraf gabungan karena ingin menyulitkan pembaca, pendengar, atau penonton untuk cepat mengambil benang merah mengenai pokok benak yang ada dalam sebuah paragraf.
4. Paragraf perbandingan
Suatu paragraf dinamakan sebagai paragraf perbandingan bilamana kalimat utama yang seringkali ditempatkan pada mula paragraf, mencocokkan dua hal tentang unsur-unsur sifat atau suasana yang tedapat didalamnya.
5. Paragraf pertanyaan
Yang dinamakan paragraf pertanyaan ialah paragraf yang bertujuan guna mempertanyakan atau menggugat sesuatu dengan mengemukakan kalimat kesatu atau kalimat kedua diawal paragraf jurnalistik.
6. Paragraf sebab-akibat
Paragraf yang dibentuk menurut urutan logis dinamakan paragraf sebab-akibat. Artinya, kalimat utama dalam paragraf dikembangkan kedalam urutan karena dan akibat.
7. Paragraf contoh
Paragraf yang dibentuk dengan menunjukkan tidak sedikit contoh pada kalimat utama, kalimat pengembang, dan kalimat penjelas, dinamakan paragraf contoh.
8. Paragraf perulangan
Paragraf yang mengerjakan perulangan kata, istilah, frasa, atau klausa, dalam rangkaian kalimat yang bertolak belakang tetapi masih dalam satu paragraf jurnalistik yang sama, dinamakan paragraf perulangan.
9. Paragraf definisi
Paragraf yang mengindikasikan suatu istilah atau konsep pada kalimat utama dan istilah atau konsep tersebut masih membutuhkan uraian serata keterangan perinci pada kalimat-kalimat berikutnya, dinamakan paragraf definisi.

KUALITAS PARAGRAF JURNALISTIK

Manurut seorang pakar bahasa, kriteria kualitas paragraf menunjuk untuk enam hal, yakni (1) isi paragraf berpusat melulu pada satu urusan saja, (2) isi paragraf relevan dengan isi karangan, (3) paragraf mesti menyatu dan padu, (4) kalimat topik mesti dikembangkan dengan jelas dan sempurna, (5) struktur paragraf mesti bervariasi, dan (6) paragraf tertulis dalam bahasa indonesia yang benar dan baik (tarigan, 1981:36). Dalam kitab ini, cocok dengan perspektif bahasa jurnalistik, saya tambahkan tiga lagi sampai-sampai jumlahnya menjadi sembilan, yakni (7) singkat dan padat, (8) logis dan sistematis, dan (9) mempunyai karakter yang khas.
1. Satu hal saja
Paragraf jurnalistik yang baik melulu memusatkan kupasan pada satu urusan atau satu gagasan saja. Seorang pengarang atau jurnalis, ibarat sedang memotret, mesti dapat memungut objek bidikannya secara fokus. Dengan pemotretan terfokus dan sudut pemungutan yang tepat, maka gambar yang didapatkan akan tampak tajam, tegas, jelas, dan berkarakter.
2. Relevan
Relevan dengan kata lain berkaitan atau cocok dengan pokok bahasan. Tidak meyimpang dari topik. Paragraf yang baik mesti menggambarkan keseluruhan isi penyampaian karya jurnalistik yang dibentuk dan disajikan oleh pengarang atau jurnalis (Sumadiria, 2004:31).
3. Menyatu dan padu
Paragraf jurnalistik mesti mengisi prinsip kesatuan (unity) dan prinsip pertautan (coherence). Prinsip kesatuan merangkum tiga unsur. Sifat, isi, tujuan. Artinya, masalah apapun yang anda kupas dalam karya jurnalistik tidak boleh terbit dari koridor ini.
4. Jelas dan sempurna
Kalimat utama yang ada dalam paragraf jurnalistik mesti dikembangkan dan diperinci dengan jelas dan sempurna. Tidak boleh terjadi, kalimat-kalimat yang terdapat dalam satu paragraf mengindikasikan adanya pertentangan dengan kalimat utama atau bahkan menegasikannya.
5. Harus bervariasi
Paragraf jurnalistik mesti bervariasi. Ini kriteria mutlak. Tak dapat ditawar-tawar lagi. Variasi pada jurnalistik terletak pada opsi kata atau diksi, penempatan frasa atau klausa.
6. Benar dan baik
Bahasa jurnalistik merujuk sekaligus tunduk untuk kaidah bahasa baku. Pertama, bahasa jurnalistik mesti benar menurut keterangan dari kaidah tata bahasa. Kedua, bahasa jurnalistik pun harus baik menurut keterangan dari pertimbangan situais dan situasi sosiologis, psikologis, dan etis.
7. Singkat padat
Singkat berarti melulu menggunakan ucapan-ucapan yang penting, terukur, fungsional. Singkat dengan demikian dapat diartikan tidak boros kata-kata, seperlunya saja. Sedangkan padat, berarti penuh informasi.
8. Logis dan sistematis
Seluruh uraian yang ada dalam paragraf jurnalistik mesti logis. Logis berarti cocok dengan atau bisa diterima menurut keterangan dari pertimbangan akal sehat (common sense). Logis kata-katanya,logis frasa dan kalausanya, logis kalimat-kalimatnya. Kelogisan tersebut juga tersaji secar sistematis. Sistematis berarti barisan kata dan kalimat yang ada dalam masing-masing paargraf jurnalistik, teratur dengan baik, runtut, laksana aliran air sungai dari hulu ke hilir.
9. Memiliki karakter khas
Karakter itu melulu mungkin hadir dalam paragraf-paragraf jurnalistik bilamana kita sebagai pengarang atau jurnalis, sejak mula mempunyai dan mengembangkan karakter atau gaya penulisan yang khas.

Monday, August 5, 2019

Diksi dalam bahasa jurnalistik

Diksi dalam bahasa jurnalistik

Diksi adalah pilihan kata. Seorang penulis atau seorang jurnalis harus pandai memilih kata untuk memberi tekanan makna pada pesan yang ingin disampaikannya. Kepiawaian memilih kata bukan karena penguasaan kosa kata atau perbendaharaan kata yang sangat banyak dan variatif, melainkan juga karena ia memang terbiasa menulis. Sebagai proses kreatif, keterampilan menulis hanya mungkin dicapai melalui proses berlatih yang terus-menerus, tidak sekali jadi. 

Menurut pakar bahasa dari Universitas Indonesia, Gorys Keraf, pilihan kata tidak hanya mempersoalkan ketepatan pemakaian kata, tetapi juga mempersoalkan apakah kata yang dipilih itu dapat juga diterima atau tidak merusak suasana yang ada. Sebuah kata yang tepat untuk menyatakan suatu maksud tertentu, belum tentu dapat diterima oleh oleh hadirin atau oleh orang yang diajak bicara. Masyarakat yang diikat berbagai norma, menghendaki pula agar setiap kata yang digunakan harus cocok atau serasi dengan norma-noma masyarakat, harus sesuai dengan situasi yang dihadapi (Keraf, 2004:24). 

Jadi, pilihan kata atau diksi harus pula senantiasa memper- imbangkan dimensi psikologis dan dimensi sosiologis suatu masyarakat. Diksi tidak bisa digunakan hanya dengan merujuk kepada faktor-faktor teknis tata bahasa. Gorys Keraf menyimpulkan, terdapat tiga hal yang berkaltan dengan diksi: 

Pertama, pilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang dipakai untuk menyampaikan suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan yang tepat, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. 

Kedua, pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar. 

Ketiga, pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasaan sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud perbendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiltki oleh sebuah bahasa (Keraf, 2004:24).

Dalam bahasa jurnalistik, diksi kerap bersinggungan dengan, antara lain, masalah pemakaian: kata-kata bersinonim, kata-kata bernilai rasa, kata-kata konkret, kata-kata abstrak, kata-kata umum, kata-kata khusus dan kata lugas. Sebagian jurnalis kita seperti tidak menyadari kalau bahasa Junalistik yang mereka pakai dalam penulisan, penylaran, dan penayangan berita atau laporan, sudah keluar dari korldor yang telah ditentukan.

Diksi dalam bahasa jurnalistik


Berikut 7 pemakaian diksi dalam bahasa jurnalistik:

Kata Bersinonim
kata yang memiliki sejenis, sepadan, sejajar, serumpun, dan memiliki arti yang sama. Meskipun ada beberapa kata yang dapat saling menggantikan, dan ada yang tidak. Ada pula kata-kata bersinonim yang pemakaiannya dibatasi oleh persandingan yang dilazimkan. Karena itu, kita harus memilihnya secara cermat (Soedjito, 1988:33). Contoh: melihat, menatap, menonton menyaksikan, mengawasi. Contoh lain: memukul, menampar, menempeleng. Seorang penulis atau jurnalis harus cermat serta akurat dalam memilih kata bersinonim. Diksi tidak hanya semata-mata persoalan teknis memilih kata. Lebih dari itu, diksi menghendaki setiap kata dalam bahasa jurnalistik menjadi hidup, segar, khas, dan menunjukkan pesan sesungguhnya. Contoh, kita bisa menerima kalimat: penjual es itu tewas tertabrak mobil. Tapi tidak dengan kalimat berikut: kucing Lia meninggal kemarin karena sakit. Dapat disimpulkan, kata bersinonim tidak bisa sesuka hati dipertukarkan atau diganti begitu saja.

Kata Bernilai Rasa
Tidak hanya gula yang memiliki rasa manis atau garam yang rasanya asin. Bahasa pun perlu memiliki rasa. Termasuk bahasa jurnalistik, harus memiliki cita rasa. Kata-kata bernilai rasa tinggi, akan memiliki dampak yang lebih kuat di benak khalayak dibandingkan dengan kata-kata bernilai rasa rendah. Secara psikologis misalnya, kata bernilai rasa tinggi menunjukan penghormatan kepada subjek yang sedang dibicarakan. Contoh, mana kata yang lebih tepat: lonte, pelacur, atau pekerja seks? Dua kata yang disebutkan pertama termasuk kata bernilai rasa rendah, itu tentunya membuat si subjek merasa terhina dan tidak menunjukan rasa empati dan tidak manusiawi. Sementara contoh ketiga menurut penelitan, pekerja seks komersial merupakan bukan pilihan subjek atau menjadi cita-cita mereka, melainkan karena tuntutan ekonomi dan sebagai akibat korban kekerasan seksual.

Kata Konkret
Kata konkret ialah kata yang menunjukan kepada objek yang dapat dipilih, didengar, dirasakan, diraba, atau dicium. Kata-kata konkret merupakan kata yang dapat dipahami dibandingkan dengan kata-kata abstrak. Kata konkret lebih efektif jika dipakai dalam narasi atau deskripsi sebab dapat merangsang pancaindera (Soedjito, 1988:5). Contoh: para korban gunung Sinabung terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat karena letusan Sinabung menyebabkan rumah-rumah mereka dipenuhi abu vulkanik. Selain itu, para korban juga membutuhkan pakaian, popok bayi, obat-obatan, air, dan juga makanan. Maka dari itu, pemerintah akan mengirim bantuan hari ini.

Kata Abstrak
Kata-kata abstrak merupakan suatu kata-kata yang menunjukan sifat, konsep, atau gagasan.  Kata-kata ini sering dipakai untuk mengungkapan suatu ide atau gagasan yang rumit. Kata-kata abstrak sulit untuk dipahami maksud dan maknanya. Jadi, penggunaan kata abstrak tidak disarankan untuk jurnalistik karena akan menyulitkan bagi pembaca, pendengar, atau pemirsa. Contoh: pemerintah menyarankan warga untuk menyingsingkan lengan baju dan semangat 45 dalam membersihkan gorong-gorong.

Kata Umum
Kata-kata umum adalah kata-kata yang luas ruang lingkupnya. Makin umum, makin kabur gambarannya dalam angan-angan (Soedjito, 1988:5). Kata-kata umum sesungguhnya bertentangan dengan prinsip akurasi dalam etika dasar jurnalistik. Akurasi berarti ketelitian dan ketepatan secara spesifik. Kata-kata umum bisa mengaburkan pesan dan menyesatkan pemahaman. Contoh: para pengungsi korban banjir memperoleh pakaian, makanan, dan buah-buahan segar dari rombongan isteri gubernur yang sengaja mengunjungi mereka di barak-barak darurat kemarin pagi.

Kata Khusus
Kata-kata khusus ialah yang memiliki ruang lingkup yang sempit. Makin khusus, makin jelas maksud dan maknanya. Kata-kata khusus lebih menegaskan pesan, memusatkan perhatian dan pengertian, serta sangat selaras dengan prinsip akurasi dalam etika dasar jurnalistik. Kata-kata khusus ini lebih banyak digunakan untuk penulisan, peliputan dan pelaporan berita. Contoh: para korban banjir yang terdiri dari 60 pria lanjut usia, 79 wanita, 50 remaja putra-putri, dan 45 balita, masing-masing telah memperoleh sekaleng biskuit, selimt, lima bungkus mie instan, satu susu berukuran 750gr, dua buah apel merah, dan tiga botol air mineral saat gubernur datang berkunjung Minggu lalu.

Kata Lugas
Kata-kata yang lugas berarti kata-kata yang bersifat tembak langsung (to do point) tegas, lurus, apa adanya, dan kata-kata yang bersahaja. Kata yang lugas adalah kata yang sekaligus juga ringkas, tidak merupakan frasa yang panjang, tidak mendayu-dayu.

Demikianlah postingan singkat mengenai diksi dalam bahasa jurnalistik. Semoga bermanfaat.

Sunday, August 4, 2019

Contoh teks berita

Hallo sobat classypedia ini adalah postingan pertama saya di blog classsypedia, pada postingan ini saya akan memberikan contoh teks berita yang merupakan tugas kuliah saya dulu di tahun 2014 hehe. Oke Langsung saja berikut:
Contoh teks berita

Contoh teks berita

Anggaran Dana Beasiswa PTN UNIB Tahun 2014 di “handle” Pemerintah Pusat

Pedoman umum Pemerintah melalui direktorat Pembelajaran dan kemahasiswaan direktorat Jendral pendidikan tinggi 2014 bahwa sejak tahun  2012, istilah beasiswa peningkatan prestasi akademik (PPA) dan bantuan belajar mahasiswa (BBM) telah berubah nama menjadi beasiswa dan bantuan biaya pendidikan peningkatan prestasi akademik (beasiswa BPP PPA ). Hal tersebut disesuaikan dengan sejalannya peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan.

Pertimbangan utama yang menjadi dasar bagi setiap calon penerima beasiswa untuk mengajukan berkas beasiswa adalah dengan ketentuan prestasi yang baik dalam bidang akademik bagi jalur PPA,  dan pertimbangan keterbatasan ekonomi orang tua pada jalur bantuan biaya pendidikan (BBP).
Kementrian Nasional Pendidikan dan kebudayaan berupaya mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa yang tidak mampu dan mahasiswa yang berprestasi baik dibidang akademik, kurikuler maupun extrakurikuler.

Drs. Mirhasudin selaku KASUBBAG KESMAWA Universitas Bengkulu mengungkapkan bahwa “alokasi dana beasiswa ini sekarang dianggarkan oleh pemerintah pusat, sehingga kami hanya sebagai penyampai  berkas pengajuan beasiswa dari mahasiswa lalu  kami kirim ke pemerintah pusat guna diseleksi”. Prinsip   program bantuan biaya pendidikan dan beasiswa  dilaksanakan sesuai prinsip 3T, yaitu tepat sasaran, tepat jumlah dan tepat waktu, mengutip dari pedoman umum dari  direktorat jendral pendidikan tinggi.
Informasi Quota mahasiswa tiap-tiap fakultas memiliki jumlah yang beraneka ragam sesuai kebutuhan. Berikut informasi quota calon penerima beasiswa setiap fakultas di Universitas Bengkulu:

•Fakultas KIP : 250
•Fakultas Pertanian : 190
•Fakultas MIPA : 69
•Fakultas Teknik : 99
•Fakultas Hukum : 59
•Fakultas Ekonomi : 98
•Fakultas fisip : 114
•Fakultas Pend kedokteran : 21

Total mahasiswa yang dianggarkan oleh pihak direktorat jendral pendidikan tinggi melalui pihak kampus Universitas Bengkulu adalah 900 mahasiswa. Jumlah tersebut relatif banyak sehingga diharapkan beasiswa tersebut benar-benar ditujukan pada mahasiswa yang tepat.
Namun, dari total jumlah quota yang di anggarkan, masih sedkit mahasiswa yang mengetahui informasi tersebut, adapun yang mengetahui informasinya, akan tetapi ia merasa enggan mengurusnya. Rido, mahasiswa semester 2 jurusan Ilmu Komunikasi  Unib saat ditanyai  dikampus perihal informasi tersebut tidak mengetahui, “ambo dak tau bang ado informasi itu, lagian kalu tau jugo, malas ngurusnyo bang, ribet”, ucap Rido kepada wartawan. Selain rido, Lois mahasiswa Jurusan Ilmu komunikasi mengatakan “ambo dak berani bang, saingan tinggi-tinggi galo IPK nyo, ambo kecik IPK nyo”. Lain hal dengan saudara Dani, mahasiswa Ekonomi Manajemen ini sangat antusias menunggu pengumuman informasi beasiswa ini. Ia sudah dari jauh-jauh hari mempersiapkan berkas-berkas syarat pengajuan beasiswa sebelum pengumuman pembukaan beasiswa tersebut “muncul kepermukaan”.  “ambo la nyiapkan dari jauh-jauh hari syarat beasiswa ko bang, biar klak pas la ado pengumumannyo, ambo dak repot lagi”. Mengingat bahwa pembukaan penerimaan beasiswa ini dimulai pada tanggal 1 desember  sampai tanggal 30 desembr 2014. Perihal digunakan untuk apa jika dana beasiswa ini cair, dani mengatakan uangnya digunakan untuk keperluan kuliah.

Pengumuman pembukaan penerimaan beasiswa ini adalah suatu momentum yang sangat sayang jika dilewatkan bagi setiap mahasiswa, mengingat dana bantuannya yang cukup untuk keperluan kuliah. Dibalik itu juga, proses penseleksian berkas calon penerima beasiswa oleh pihak kampus juga mengharuskan ketelitian yang jeli agar dikemudian hari tidak terjadi kecemburuan sosial bagi mahasiswa yang seharusnya layak mendapatkan dan lain-lain.

Asiknya bervespa ria di dalam kota

Begitu anda mendengar nama Vespa, yang muncul di benak anda adalah motor tua yang montok, ya itulah Vespa. Vespa sendiri berasal  dari negar a Italia yang pada awalnya prusahaan Piaggio (perusahaan yang memproduksi Vespa) khusus memproduksi Pesawat sebagai kendaraan tempur  perang dunia II. Setalah perang dunia II usai, terjadilah krisis melanda hampir seluruh dunia, termasuk di Italia, lalu Enrico Piaggio(anak dari Rinaldo Piaggio) mengambil alih perusahaan milik ayahnya dan meninggalkan produksi Pesawat milik ayahnya menjadi produksi Vespa.

Dalam bahasa Italia sendiri, Vespa berarti Tawon, dengan bergaya Retro dan terkesan romantic disaat dikendarai oleh sepasang kekasih. Bentuknya yang “gendut” dengan garis-garis melengkung di bodynya makin terlihat cantik dan mengundang lirikan mata untuk melihatnya tiap kali melintas di jalan perkotaan.

Saat ini sudah banyak sekali pengguna Vespa, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Bagi warga Italia, Vespa adalah symbol dari pergerakan industry besar mereka. Desain yang simple merupakan refleksi gaya dan inovasi khas Italia.

Scooter Modifikasi Klasik(SEMOK) adalah salah satu komunitas vespa yang berada di kota Bengkulu. Berdiri sejak 2005 silam, komunitas ini sudah memiliki member 25 Scooterist. Kegiatan rutin mereka setiap sabtu sore konvoi keliling kota Bengkulu ujar salah seorang anggotanya. Semok mempunyai Base Camp Di anggut yakni didepan Masjid Agung kota Bengkulu. “Misi dari Komunitas ini adalah sebagai wadah Sharing dan mengumpulkan orang-orang yang mempunyai hobi yang sama dalam ber Vespa”, ucap ketua komunitas ini, abang Gugum. Selain berkonvoi di kota Bengkulu, Semok juga sering mengikuti touring mengunjungi kota-kota lain di Sumatra.

Dengan kontruksi yang kokoh dan keunikannya tersebut, kini nama vespa makin  mendunia dan tersebra dimana-mana dengan berbagai serie dan jenis yag berbeda. Terdapat sebuah slogan yang menarik untuk dibaca oleh pembaca dan pecinta Vespa, yakni “BELUM KAYA KALO BELUM PUNYA VESPA”… bagaimana menurutmu???.

Anak miskin harus sekolah

Anak merupakan investasi masa depan sebuah bangsa, merekalah yang kelak bakal mengisi ruang-ruang proses dinamika berbangsa dan bernegara. Namun ternyata masih banyak kita temukan anak-anak kurang mampu berhenti bersekolah karena tidak mempunyai biaya. Kita sering melihat mereka harus dipaksa mengemis demi menghidupi keluarga, melakukan tindak kriminal, dan telantar dan bahkan sampai harus menghadapi berbagai bentuk kekerasan. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia agar dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Keberadaan pendidikan yang sangat penting tersebut telah diakui dan sekaligus memiliki legalitas yang sangat kuat sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 (1) yang menyebutkan bahwa:” Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”. Hak memperoleh pendidikan ini diperjelas dengan pasal 31 (2) yang bunyinya:”Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. Selanjutnya pada ayat (3) dituangkan pernyataan yang berbunyi: ”Pemerintah mengusahakan dan menye-lenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keima-nan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rang-ka mencerdaskan kehidu-pan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.   
 Diusianya yang ke 295 tahun geliat pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kota Bengkulu semakin dirasakan oleh masyarakat kota. Perubahan wajah ibukota Provinsi Bengkulu inipun semakin terlihat, asri, bersih dan nyaman.
   
Dibawah kepemimpinan H.Helmi Hasan,SE dan Patriana Sosialinda,S.Sos sebagai walikota dan wakil walikota Bengkulu kini dengan program delapan Tekad Bengkulu-Ku, pelan namun pasti pembangunan di setiap bidang pembangunan kian terlihat. Salah satunya adalah Bengkulu-Ku Peduli. Pada program Bengkulu-Ku Peduli khususnya dibidang Pendidikan, Pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan dan Budaya Kota Bengkulu gencar melakukan sosialisasi pentingnya bersekolah dan penjaring anak-anak putus sekolah.  Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya (Dikbud) Kota Bengkulu Drs.Gianto saat ditemui di ruang kerjanya Kamis (13/3) mengatakan, pada hakikatnya pendidikan adalah hak dasar bagi setiap warga negara Indonesia untuk dapat menikmatinya. Artinya setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak terutama pendidikan dasar.  “Dengan kondisi ekonomi yang sulit, mendorong peningkatan jumlah anak-anak putus sekolah. Anak-anak usia sekolah masih banyak kita temui tengah bekerja, dan layaknya orang dewasa saat mereka ditanya, mengapa tidak sekolah, mereka akan menjawab, tidak ada uang, kami bekerja untuk membantu uang dapur atau sekedar mencari uang jajan. Miris hati kita saat mendengar jawaban itu. Dan karena sudah merasa ‘nyaman’ mencari uang, si anak akhirnya malas untuk kembali bersekolah. Untuk itu mengingat pentingnya pendidikan bagi mereka yang notabenenya penerus bangsa, kami dari Dikbud berupaya semaksimal mungkin agar di Kota Bengkulu ini tidak ada lagi siswa miskin yang tidak dapat bersekolah.” Kata Gianto.  Pemerintah sebagai penyelenggara negara, lanjut Gianto, sebenarnya telah mengambil beberapa tindakan untuk mengatasi mahalnya biaya pendidikan, salah satunya adalah dengan menjalankan program “sekolah gratis” untuk pendidikan dasar SD dan SMP yang dikenal dengan program BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan BSM (beasiswa miskin). Fenomena pendidikan gratis ini memang sangat ditunggu-tunggu, dan dengan dana BOS ini diharapkan dapat meningkatkan pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan bagi setiap warga Kota Bengkulu. “Program-program itu adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan penurunan angka anak putus sekolah, sekolah gratis bagi orangtua bisa mengurangi beban pikirannya untuk masalah biaya pendidikan dan tidak ada lagi anak-anak yang tidak boleh ikut ujian hanya karena belum bayar iuran sekolah. Untuk itulah kami telah sepakat dengan kepala sekolah-kepala sekolah yang ada di Bengkulu ini untuk menjemput anak-anak dari keluarga tidak mampu ini untuk kembali bersekolah.” Tambahnya. Gianto menambahkan, pada 2013 lalu, Kota Bengkulu telah berhasil menyekolahkan kembali 4.815 anak-anak putus sekolah dari kalangan keluarga miskin, dengan rincian, tingkat Sekolah Dasar 2.049 anak, SMP 457 anak, SMA 1.108 anak dan SMK 1.201 anak. 
Kami ingin dengan kemampuan APBD kita dan bantuan dana dari APBN, jumlah anak-anak miskin yang dapat bersekolah lagi akan meningkat dan jumlah siswa miskin di Kota Bengkulu ini juga menurun.” Kata Kepala Dinas yang tidak pernah risih untuk turun ke pelosok-pelosok mencari anak-anak putus sekolah ini.  Sementara itu terkait dengan program Bengkulu Ku religius, Gianto yang pernah mengantarkan langsung anak tukang semir sepatu cukur rambut ini menjelaskan, sesuai arahan Walikota, saat ini di setiap sekolah sudah menyusun agenda terkait program tersebut. Seperti pesantren kilat, sholat dhuhur, dhuha dan jumat bersama di sekolah masing-masing dan dikalangan guru majelis taklim pun kembali digiatkan.  “Saat ini sudah ada sekolah yang melaksanakan pesantren kilat yang dilakukan sebulan sekali, seperti SMAN 4, SMPN 5, dan SMAN 6 Kota Bengkulu.Dalam pesantren kilat ini, para siswa diwajibkan menginap satu malam di sekolah. Kegiatan yang dilakukan selama pesantren kilat, antara lain salat berjamaah, pengajian, ceramah, dan masih banyak lagi kegiatan keagamaan lainnya. Ini merupakan langkah peningkatan yang dilakukan untuk menghidupkan suasana keagamaan di sekolah.” Ujarnya.  Dijelaskan Gianto, kegiatan ini direspon baik oleh wali murid. Program ‘Bengkuluku Religius’ di lingkungan sekolah ini nantinya tidak hanya diberlakukan bagi sekolah Negeri, namun juga sekolah-sekolah swasta yang ada di Kota Bengkulu. “Melalui kegiatan seperti ini akan memupuk rasa kasih sayang antara siswa dengan siswa, guru dengan guru, bahkan guru dengan siswa, sehingga tidak ada lagi sifat-sifat saling mengejek, maupun pertengkaran di sekolah. Dan sudah dapat dipastikan dengan kegiatan ini akan meningkatkan iman dan tagwa kita semua dan dengan kegiatan ini juga akan meningkatkan kepedulian kita kepada sesama serta memotivasi anak-anak miskin untuk kembali mengenyam pendidikan yang menjadi hak dasar mereka.” pungkas Gianto.

Demikianlah contoh teks berita pada artikel ini semoga dapat bermanfaat. Terima Kasih

jurnalistik

[jurnalistik][recentbylabel2]

puisi

[puisi][recentbylabel2]
Notification
Belum ada notifikasi untuk saat ini
Done